Telaga Sarangan Tempo Dulu

Telaga Sarangan : Dari Legenda Naga hingga Ikon Wisata yang Menantang Penataan

Magetan, Data-Fakta.id,  18 Oktober 2025.  Terselip di lereng Gunung Lawu, Telaga Sarangan bukan sekadar destinasi wisata alam yang memesona, melainkan saksi bisu perjalanan sejarah panjang Kabupaten Magetan. 

Dengan luas 30 hektare dan kedalaman 28 meter, telaga ini berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, menawarkan udara sejuk 15-20°C yang selalu memikat jutaan pengunjung setiap tahun. 

Namun, di balik keindahannya, Telaga Sarangan menyimpan kisah legenda, jejak kolonial, kunjungan tokoh nasional, hingga tantangan pengelolaan aset yang kini menjadi PR besar bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan. 

Sebagai tulang punggung pendapatan asli daerah (PAD) melalui retribusi wisata, telaga ini berpotensi lebih besar jika dikelola secara optimal.

Sejarah Awal Telaga Sarangan : Legenda dan Jejak Kolonial Sebelum Kemerdekaan

Sejarah Telaga Sarangan bermula dari kisah mistis yang berakar pada tradisi Jawa kuno, bahkan hingga zaman Megalitikum. Menurut legenda yang diwariskan secara turun-temurun, telaga ini terbentuk dari kisah tragis sepasang suami-istri, Ki Pasir (atau Kiai Pasir) dan Nyai Pasir, yang tinggal sederhana sebagai petani di lembah lereng Gunung Lawu. 

Pasangan ini sangat mendambakan keturunan, hingga suatu hari menemukan telur besar di ladang. Telur itu ternyata milik seekor naga betina yang sedang bertelur. Tanpa sadar, mereka memasak dan memakannya, yang memicu kutukan: tubuh mereka berubah menjadi ular raksasa. 

Dalam keputusasaan, ular-ular itu bergulung-gulung di tanah, membentuk cerukan besar yang lambat laun terisi air hingga menjadi telaga. Karena itu, telaga ini awalnya disebut Telaga Pasir, sebelum berganti nama menjadi Telaga Sarangan sesuai lokasi di 

Telaga Sarangan di Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan.

Legenda ini tak hanya mistis, tapi juga mencerminkan kearifan lokal. Setiap tahun, masyarakat sekitar menggelar ritual Labuhan Sesaji atau Labuhan Sarangan pada Jumat Pon bulan Ruwah (Sya’ban) kalender Jawa. 

Ritual ini dimulai dengan ziarah ke makam Dewi Werdiningsih—dianggap leluhur—di sisi barat telaga, diikuti arak-arakan tumpeng raksasa dan sesaji oleh lebih dari 1.000 warga. 

Tradisi ini, menurut sejarawan Andrian Perkasa, berasal dari simbol-simbol kuno seperti gunungan dan tumpeng yang ada sejak era prasejarah Hindu.

Pada masa kolonial Belanda, Sarangan hanyalah lembah pertanian sederhana. 

Namun, sekitar abad ke-20, Belanda membangun bendungan di Sungai Cemoro Sewu untuk irigasi sawah-sawah di Magetan. Bendungan ini justru memicu genangan air alami yang membentuk telaga modern seperti sekarang. 

Keindahan alamnya segera menyebar, menjadikan Sarangan sebagai tempat favorit warga Belanda di Magetan. Bahkan, saat Perang Dunia II, kawasan ini sempat menjadi tempat isolasi bagi warga Jerman oleh Belanda, karena ketegangan diplomatik. Jejak sejarah ini meninggalkan sisa bangunan kerajaan lama, menambah nuansa magis telaga yang kini jadi ikon wisata.

Perkembangan Pasca-Kemerdekaan : Fasilitas Modern dan Kunjungan Tokoh Nasional

Telaga Sarangan dan Presiden Soekarno
Presiden Soekarno di Telaga Sarangan (1948)

Pasca-kemerdekaan 1945, Telaga Sarangan berkembang pesat sebagai aset wisata nasional. Pemerintah membangun fasilitas penunjang seperti jalan akses, yang kini menghubungkan telaga dengan Air Terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu, Karanganyar. 

Saat ini, kawasan ini dilengkapi lengkap: dua hotel bintang, 43 hotel melati, 18 pondok wisata, serta kios suvenir yang menjajakan kerajinan lokal seperti anyaman bambu, kulit, sepatu, emping melinjo, dan lempeng (kerupuk nasi). 

Pengunjung bisa menikmati aktivitas seru seperti naik speedboat (Rp60.000 per putaran), berkuda mengelilingi telaga, becak air, atau sekadar bersantai di pinggir danau sambil mencicipi kuliner khas seperti nasi grombyang, tempe mendoan, atau soto Magetan.

 

Fasilitas pendukung lainnya tak kalah lengkap: area parkir luas (termasuk untuk bus), mushola, toilet, pasar oleh-oleh, dan taman rekreasi. Tiket masuknya terjangkau, Rp10.000 per orang (termasuk parkir), membuatnya ramah keluarga. 

Event tahunan seperti Labuhan Sesaji, libur sekolah, Ledug Sura 1 Muharram, dan pesta kembang api Tahun Baru menambah daya tarik, menarik ratusan ribu wisatawan domestik dan mancanegara setiap tahun.
Telaga ini juga pernah disambangi tokoh nasional. Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengunjungi kawasan ini selama masa jabatannya (1999-2001), meski detailnya lebih menonjolkan kunjungan simbolisnya ke daerah Jawa Timur untuk mendekatkan diri dengan masyarakat. Lebih baru, pada 17 Oktober 2025—hanya sehari sebelum berita ini ditulis—Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berkunjung dan mengabadikan panorama telaga dalam lukisan. 

Didampingi putranya Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), SBY melukis lereng Gunung Lawu dengan teknik realistik, menggunakan kanvas di tepi telaga. “Telaga Sarangan ini luar biasa indah, udaranya segar dan menenangkan. Saya ingin mengabadikannya,” ujar SBY, yang hobi melukis sejak 2021 sebagai cara mengenang mendiang istrinya, Ani Yudhoyono. 

Kunjungan ini disambut Bupati Nanik Endang dan Forkopimda Magetan, sekaligus jadi momentum promosi wisata.

Sengketa Hak Aset: Ancaman bagi Potensi Ekonomi

Meski potensinya besar—sebagai tulang punggung PAD Magetan melalui retribusi dan UMKM—Telaga Sarangan terhambat sengketa hak aset. Kawasan ini terpecah menjadi empat bagian: milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Perhutani, warga masyarakat, dan sebagian Pemkab Magetan. 

Telaga dan jalan sekitarnya bahkan belum tercatat sebagai aset resmi daerah, membuat pengelolaan jadi “tambal sulam”. Contoh konkret: lahan 800 m² milik Pemkab di Kelurahan Sarangan (eks Miroso) sempat dikuasai pihak swasta tanpa izin untuk rumah makan, meski kini sudah disepakati dikembalikan. 

Kasus serupa di sisi barat, terkait lahan Perhutani, juga sering memicu konflik karena warga mengklaim “kerja sama lama”.
Sengketa ini bukan hanya soal getok harga atau kemacetan, tapi akar masalah regulasi. Tanpa kepastian aset, penataan seperti revitalisasi master plan Telaga Wahyu atau pengkodingan pedagang jadi terhambat. 

Dampaknya? Wisatawan mengeluh soal kebersihan, sampah, dan layanan mahal, meski potensi event dan wahana baru bisa ditingkatkan.

Langkah Pemkab Magetan: Menuju Pengelolaan Optimal

Untuk menjadikan Telaga Sarangan sebagai tulang punggung ekonomi berkelanjutan, Pemkab Magetan telah menyusun langkah konkret. 

Pertama, prioritas penyelesaian aset: koordinasi intensif dengan BBWS Bengawan Solo dan Perhutani untuk pemindahan hak guna, serta inventarisasi lahan warga melalui dialog. 

Kedua, pembentukan kelembagaan baru seperti Badan Pengelolaan Kawasan Industri Pariwisata (BPKIP) Telaga Sarangan atau PT milik daerah 100%, yang lebih fleksibel daripada dinas biasa. Ini akan memudahkan pengelolaan dana event dan retribusi, sesuai Perda No. 15/2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2012-2032.

Ketiga, inovasi wisata: tambah atraksi seperti rute tour jeep antar-spot, event tahunan, dan food court di aset eks Miroso (berpotensi tambah PAD melalui UMKM). 

Keempat, sinergi dengan masyarakat: evaluasi besar-besaran termasuk satuan pemantauan hotel/restoran, pengelolaan sampah, dan pelatihan pedagang untuk hindari getok harga. Pj Bupati Nizamul menekankan, “Ini pelayanan kita. Dengan sinergi pemerintah-masyarakat, Magetan bisa bangkit.” Selain itu, Perbup No. 23/2020 tentang konservasi ikan di telaga memastikan keberlanjutan habitat.

Dengan langkah ini, Telaga Sarangan tak hanya bertahan sebagai ikon, tapi jadi motor penggerak ekonomi Magetan. Kunjungan SBY kemarin jadi pengingat: keindahan alam ini patut dirawat, agar legenda naga terus hidup dalam cerita wisata modern. 

Bagi Anda yang ingin healing, datanglah—tapi dukung juga upaya penataan agar Sarangan tetap ngangeni. (agus)

Regulasi
Artikel
Home
Dukung
Infografis